GpO9TfG0TSG7TUC7TpAoTpCiTi==

Abata Lombok Dorong Pola Hidup Sehat Anak, Pendidikan Tak Lagi Sekadar Soal Nilai Akademik


Mataram — Sekolah Abata Lombok menyoroti meningkatnya fenomena anak-anak yang mudah sakit, sulit berkonsentrasi, hingga mengalami gangguan emosi akibat perubahan pola hidup di era digital. Kondisi tersebut dinilai bukan semata dipengaruhi cuaca atau faktor lingkungan, tetapi juga kebiasaan sehari-hari yang tanpa sadar dianggap normal dalam keluarga modern.

Penggunaan gadget berlebihan, tidur terlalu malam, minim aktivitas fisik, konsumsi makanan instan, hingga kurangnya interaksi sosial nyata disebut menjadi faktor yang perlahan memengaruhi kesehatan fisik maupun mental anak.

Sekolah Abata Lombok menilai banyak anak saat ini terlihat tenang dan tidak merepotkan karena sibuk dengan layar digital, padahal tubuh mereka minim bergerak, waktu istirahat terganggu, dan kemampuan sosialnya perlahan menurun.

Tim Psikolog Sekolah Abata Lombok, Bunda Dita, menjelaskan bahwa anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar hiburan digital. Mereka memerlukan ruang tumbuh yang sehat melalui aktivitas fisik, permainan nyata, komunikasi hangat, dan kedekatan emosional dengan keluarga.

“Ketika anak terlalu lama hidup di depan layar, mereka berisiko kehilangan keseimbangan dalam tumbuh kembangnya, baik secara emosi maupun sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan, pola tidur yang buruk dan kurangnya aktivitas luar ruang juga dapat berdampak terhadap hormon pertumbuhan serta kemampuan anak mengelola stres sejak usia dini.

Karena itu, menurutnya, peran sekolah dan orang tua harus berjalan beriringan dalam membangun pola pengasuhan yang lebih sehat di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Direktur Sekolah Abata Lombok, Fahrun Nitza, S.Pd., Gr., menegaskan bahwa sekolah saat ini harus hadir lebih dari sekadar tempat belajar akademik.

Menurutnya, pendidikan memiliki tanggung jawab menjaga kesehatan fisik, mental, emosional, sekaligus membangun karakter anak agar tetap kuat menghadapi tantangan zaman modern.

“Pendidikan tidak boleh hanya fokus mencetak anak pintar secara nilai, tetapi juga memastikan mereka tumbuh sehat, kuat, memiliki empati, dan mampu menghadapi kehidupan dengan baik,” tegasnya.

Sebagai upaya nyata, Sekolah Abata Lombok mulai memperkuat budaya belajar yang lebih sehat dan humanis. Anak-anak didorong untuk aktif bergerak, bermain bersama teman sebaya, belajar di ruang terbuka, menjaga pola tidur, serta mengurangi ketergantungan terhadap gadget.

Bagi Abata Lombok, fenomena anak yang mudah lelah, mudah sakit, hingga sulit fokus merupakan tanda bahwa keseimbangan pola hidup anak mulai terganggu.

Karena itu, sekolah ini memandang pendidikan sebagai ruang untuk memulihkan kembali tumbuh kembang anak secara utuh, agar lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat fisik, matang secara emosi, tangguh secara mental, dan kuat dalam karakter.

0Komentar

Tambahkan komentar
adsvert
adsvert
adsvert
adsvert

Hubungi Kami

  • Jl. Adisucipto no 41, Mataram, NTB
  • 087865428999
  • redaksi@lombokinvestasi.id