MATARAM — Pertumbuhan industri hospitality di Pulau Lombok terus menunjukkan tren positif. Sejumlah hotel berbintang dan kawasan wisata modern mulai bermunculan seiring meningkatnya arus investasi di Nusa Tenggara Barat.
Namun di balik geliat pembangunan tersebut, Ketua Pengurus Wilayah IPPAT NTB, Dr Saharjo SH MKn MH, mengingatkan pentingnya penguatan legalitas pertanahan sebagai fondasi utama menjaga keberlanjutan investasi.
Hal itu disampaikan Saharjo saat menghadiri peresmian Prime Plaza Hotel Mataram. Kehadirannya sekaligus menegaskan semakin strategisnya peran profesi Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam menciptakan kepastian hukum di tengah berkembangnya sektor pariwisata dan properti di Lombok.
Menurut Saharjo, keberhasilan sebuah investasi tidak hanya diukur dari megahnya bangunan atau besarnya nilai proyek, tetapi juga dari tertibnya administrasi pertanahan sejak tahap awal pembangunan.
“Investasi yang sehat lahir dari legalitas yang kuat. Sebelum bangunan berdiri, ada proses panjang yang harus dipastikan aman secara hukum, dan di situlah PPAT memiliki peran penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hampir seluruh proyek besar di sektor pariwisata selalu berkaitan langsung dengan persoalan pertanahan. Mulai dari proses peralihan hak, pemeriksaan dokumen, pengikatan transaksi, hingga sinkronisasi tata ruang menjadi tahapan yang menentukan keberlanjutan investasi.
Saharjo menilai banyak persoalan investasi di berbagai daerah berawal dari lemahnya administrasi pertanahan. Karena itu, profesi PPAT dituntut menjalankan prinsip kehati-hatian agar sengketa hukum di kemudian hari dapat diminimalisir.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, kantor pertanahan, pelaku usaha, dan profesi hukum pertanahan untuk menjaga iklim investasi yang sehat di NTB.
“Investor membutuhkan kepastian hukum, masyarakat membutuhkan perlindungan hak atas tanah, dan pemerintah membutuhkan pembangunan yang tertib. Semua itu harus berjalan seimbang,” katanya.
Prime Plaza Hotel Mataram sendiri hadir membawa konsep modern dengan fasilitas MICE melalui Bonang Ballroom berkapasitas hingga seribu tamu serta sembilan ruang pertemuan yang dilengkapi teknologi videotron dan tata suara profesional.
Hotel tersebut juga menghadirkan konsep kuliner internasional melalui Golden Lotus Mataram, restoran Chinese cuisine autentik tanpa daging babi dan tanpa lemak babi yang dirancang menyesuaikan kultur masyarakat NTB.
Dengan lokasi strategis yang terhubung ke Senggigi, Mandalika, dan Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, kehadiran hotel itu dinilai menjadi bagian dari transformasi Lombok menuju pusat bisnis dan pariwisata modern di kawasan timur Indonesia.
Di tengah pertumbuhan investasi tersebut, IPPAT NTB menegaskan komitmennya untuk terus mendukung terciptanya ekosistem pembangunan yang sehat melalui penguatan profesionalisme PPAT, kepastian hukum pertanahan, serta sinergi lintas sektor di Nusa Tenggara Barat.
