LOMBOK – Kebiasaan membentak anak masih sering dianggap sebagai bagian dari proses mendidik. Padahal, para ahli perkembangan anak menilai bahwa pola komunikasi yang keras justru dapat meninggalkan dampak psikologis yang memengaruhi tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi bentakan, kritik, dan hukuman verbal cenderung mengalami penurunan rasa percaya diri. Mereka lebih mudah merasa tidak berharga, takut melakukan kesalahan, dan kesulitan mengekspresikan pendapat maupun perasaannya.
Kondisi tersebut dapat membuat anak lebih rentan menjadi korban bullying. Kurangnya keberanian untuk membela diri atau mencari bantuan saat menghadapi tekanan sosial sering kali membuat mereka menjadi sasaran perundungan di lingkungan sekolah maupun pergaulan.
Namun dampak bentakan tidak berhenti sampai di sana. Sebagian anak justru menunjukkan reaksi yang berbeda dengan meniru pola perilaku yang mereka alami. Kemarahan dan tekanan yang tersimpan dapat berubah menjadi tindakan agresif terhadap orang lain.
Akibatnya, anak yang sering menerima kekerasan verbal di rumah berpotensi menjadi pelaku bullying karena menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar dalam berinteraksi.
Tim Psikolog SEKOLAH ABATA LOMBOK, Bunda Dita, menjelaskan bahwa anak membutuhkan hubungan emosional yang sehat dengan orang tua agar dapat tumbuh secara optimal.
"Ketika anak terus-menerus dibentak, ia belajar bahwa dunia adalah tempat yang tidak aman. Mungkin ia terlihat menurut, tetapi di dalam dirinya tumbuh kecemasan, kemarahan, dan rasa tidak percaya diri. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berdampak pada perilaku dan kemampuan sosialnya," jelas Bunda Dita.
Menurutnya, kedekatan emosional antara orang tua dan anak memiliki peran penting dalam membentuk karakter, ketahanan mental, dan kemampuan anak menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Karena itu, orang tua dianjurkan untuk membangun komunikasi yang lebih positif, mendengarkan anak dengan empati, serta memberikan arahan secara tegas tanpa harus menggunakan bentakan atau kata-kata yang merendahkan.
Sebagai lembaga pendidikan yang peduli terhadap kesehatan mental anak, SEKOLAH ABATA LOMBOK terus mengembangkan budaya Zero Bullying melalui layanan psikologi sekolah, edukasi parenting, serta pendekatan pembelajaran yang mengedepankan nilai kasih sayang dan penghargaan terhadap setiap anak.
Bunda Dita menegaskan bahwa keberhasilan anak tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kesehatan mental dan kemampuan mereka membangun hubungan sosial yang baik.
"Anak yang merasa dicintai, dihargai, dan diterima oleh lingkungannya akan tumbuh lebih percaya diri, lebih berani mencoba hal baru, serta memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah," katanya.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus bullying dan kesehatan mental anak, para orang tua diajak untuk menyadari bahwa rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang cinta, penghargaan, dan rasa aman.
Bentakan mungkin mampu menghentikan perilaku anak sesaat, tetapi hubungan yang hangat dan penuh kasih sayang akan memberikan bekal yang jauh lebih berharga bagi masa depan mereka.
