Dr. Saharjo: Masa Depan Pencak Silat Ditentukan oleh Karakter, Bukan Sekadar Medali
Mataram, 20 Juni 2026 – Musyawarah Provinsi (Musprov) VI PERSINAS ASAD Nusa Tenggara Barat menjadi momentum penting bagi penguatan arah pembinaan pencak silat di daerah. Mengusung tema “Membangun Pesilat Profesional, Berprestasi, Berbudaya, dan Berkarakter Luhur,” forum ini tidak hanya membahas konsolidasi organisasi, tetapi juga masa depan pencak silat sebagai instrumen pembentukan karakter bangsa.
Kehadiran Dr. Saharjo, SH., MKn., MH., Pimpinan Setia Hati Terate Nusa Tenggara Barat, yang menegaskan bahwa pencak silat tidak boleh hanya diukur dari jumlah medali dan gelar juara yang diraih.
Menurutnya, prestasi merupakan hasil yang penting, tetapi karakter merupakan tujuan utama yang harus dibangun oleh setiap perguruan pencak silat.
"Masa depan pencak silat tidak ditentukan oleh banyaknya medali semata, melainkan oleh kualitas karakter para pesilat yang dilahirkan. Juara dapat dibentuk dalam hitungan tahun, tetapi karakter luhur dibangun sepanjang kehidupan," ujar Saharjo.
Sebagai salah satu tokoh pembinaan pencak silat di Nusa Tenggara Barat, Saharjo menilai bahwa tantangan organisasi pencak silat saat ini semakin kompleks. Selain menghadapi persaingan olahraga yang semakin kompetitif, perguruan juga dituntut mampu membina generasi muda agar memiliki integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, serta semangat persaudaraan.
Ia menegaskan bahwa pencak silat sejak awal lahir bukan hanya sebagai ilmu bela diri, melainkan sebagai sarana pendidikan manusia seutuhnya. Karena itu, keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya tercermin dari podium kejuaraan, tetapi juga dari kontribusi para pesilatnya di tengah masyarakat.
Dalam pandangannya, pesilat yang ideal adalah mereka yang mampu menjaga keseimbangan antara kemampuan fisik, kecerdasan berpikir, kematangan emosional, dan keluhuran budi pekerti.
"Pesilat sejati adalah mereka yang mampu menang tanpa merendahkan, kuat tanpa menindas, dan berani tanpa kehilangan kebijaksanaan," katanya.
Kehadiran Saharjo dalam Musprov VI PERSINAS ASAD NTB juga mencerminkan komitmen kuat antarperguruan untuk menjaga iklim persaudaraan dan memperkuat kolaborasi dalam membangun prestasi pencak silat daerah. Menurutnya, perbedaan perguruan tidak boleh menjadi penghalang untuk bersama-sama membesarkan pencak silat Indonesia.
Ia mengajak seluruh elemen pencak silat untuk menjadikan organisasi sebagai ruang pembinaan karakter, pengembangan prestasi, serta penguatan nilai-nilai budaya bangsa yang diwariskan para pendahulu.
Musprov VI PERSINAS ASAD NTB diharapkan menghasilkan kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat peran pencak silat sebagai warisan budaya yang mendidik, mempersatukan, dan membangun generasi masa depan.
Bagi Dr. Saharjo, keberhasilan pencak silat pada akhirnya bukan ditentukan oleh siapa yang paling banyak mengoleksi medali, melainkan oleh siapa yang paling banyak melahirkan manusia-manusia berkarakter luhur, berintegritas, dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.
