MATARAM — Ada fase dalam kehidupan ketika seseorang berhenti bertanya, "Apa lagi yang harus saya capai?" dan mulai bertanya, "Untuk apa semua yang telah saya capai?"
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari pertanyaan itulah lahir kegelisahan paling dalam yang dialami banyak pemimpin, akademisi, pengusaha, dan tokoh masyarakat setelah bertahun-tahun berada dalam pusaran pencapaian.
Di tengah aktivitasnya sebagai notaris, dosen, pemimpin organisasi profesi, pembina pendidikan, dan tokoh Persaudaraan Setia Hati Terate, Saharjo mengaku semakin sering merenungkan satu kenyataan yang jarang dibicarakan secara terbuka: bahwa keberhasilan lahiriah tidak selalu berjalan seiring dengan kemenangan batiniah.
"Manusia modern diajarkan untuk terus naik, terus berkembang, terus memperbesar. Tetapi sangat sedikit yang diajarkan bagaimana memahami dirinya sendiri," ujarnya.
Refleksi itu berangkat dari perenungannya terhadap Mukadimah Persaudaraan Setia Hati Terate yang mengajarkan bahwa hakikat hidup manusia bukanlah sekadar mengumpulkan capaian duniawi, melainkan menyingkap tabir hati nurani untuk menemukan mutiara kehidupan yang telah lama bersemayam di dalam dirinya.
Menurut Saharjo, banyak orang menghabiskan puluhan tahun mengejar sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah berada di luar dirinya.
Mereka mengejar jabatan demi penghormatan.
Mengejar kekayaan demi ketenangan.
Mengejar popularitas demi kebahagiaan.
Mengejar kekuasaan demi rasa aman.
Namun setelah semua itu diperoleh, pertanyaan yang sama kembali muncul.
"Lalu setelah ini apa?"
"Jika kebahagiaan bergantung pada jabatan, maka ketika jabatan itu hilang kita akan kehilangan diri. Jika harga diri bergantung pada kekuasaan, maka ketika kekuasaan berakhir kita akan merasa kosong. Karena itu persoalan terbesar manusia bukan kurangnya pencapaian, tetapi kurangnya pemahaman tentang dirinya sendiri," katanya.
Dalam pandangannya, ajaran Setia Hati menawarkan kritik yang sangat relevan terhadap kehidupan modern. Bahwa musuh terbesar manusia bukanlah lawan politik, bukan pesaing usaha, bukan orang yang berbeda pandangan, melainkan ego yang tumbuh diam-diam dalam dirinya sendiri.
Ego yang ingin selalu menang.
Ego yang ingin selalu dipuji.
Ego yang ingin selalu dianggap penting.
Ego yang sulit menerima kritik.
Ego yang sering menyamar sebagai pengabdian.
"Semakin tinggi seseorang, semakin halus bentuk egonya. Ia tidak lagi hadir sebagai kemarahan yang kasar, tetapi sebagai perasaan paling berjasa. Tidak lagi hadir sebagai keserakahan yang terlihat, tetapi sebagai ambisi yang dibungkus alasan-alasan mulia," ungkapnya.
Karena itu, menurutnya, pencak silat dalam tradisi Setia Hati tidak pernah dimaksudkan sekadar untuk melahirkan petarung yang kuat secara fisik. Pencak silat hanyalah pintu masuk untuk membangun manusia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Sebab mengalahkan orang lain hanya membutuhkan tenaga.
Tetapi mengalahkan diri sendiri membutuhkan kesadaran.
Dan kesadaran itulah yang semakin langka di tengah dunia yang mengagungkan kecepatan, persaingan, dan pencitraan.
Kontemplasi tersebut juga membawanya pada kesimpulan bahwa organisasi, jabatan, dan lembaga yang dibangun selama ini sesungguhnya hanyalah alat, bukan tujuan.
PSHT hanyalah wadah.
Sekolah hanyalah sarana.
Organisasi profesi hanyalah kendaraan.
Jabatan hanyalah amanah sementara.
Semuanya penting, tetapi tidak ada yang layak dipertuhankan.
"Saya semakin percaya bahwa ukuran keberhasilan seseorang bukan seberapa besar organisasi yang dipimpinnya, tetapi seberapa besar manfaat yang tetap hidup setelah dirinya tidak lagi memimpin," katanya.
Pemikiran itu pula yang menjadi dasar pandangannya terhadap pendidikan. Baginya, sekolah tidak boleh sekadar menghasilkan lulusan yang pintar mencari pekerjaan atau mengumpulkan kekayaan. Pendidikan harus membantu manusia mengenal dirinya, memahami tanggung jawabnya, dan menemukan makna hidupnya.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak dibentuk oleh mereka yang paling banyak memiliki, melainkan oleh mereka yang paling banyak memberi.
Dan kehidupan tidak diukur dari berapa lama seseorang hidup, tetapi dari seberapa dalam jejak nilai yang ditinggalkannya.
Di tengah budaya yang sering mengukur manusia dari gelar, jabatan, jumlah pengikut, dan kekuatan ekonomi, Saharjo memilih mengingatkan dirinya sendiri bahwa semua itu hanyalah persinggahan.
Sebab ketika seluruh atribut dunia dilepaskan, ketika jabatan berakhir, ketika tepuk tangan berhenti, dan ketika manusia berdiri sendiri di hadapan Tuhannya, yang tersisa bukanlah apa yang pernah dimiliki.
Yang tersisa adalah siapa dirinya sesungguhnya.
Dan mungkin di situlah kemenangan sejati bermula.
