Wisuda XXIX IAIH Hamzanwadi: Bukan Sekadar Mencetak Sarjana, Tetapi Menentukan Arah SDM NTB
MATARAM — Wisuda XXIX Institut Agama Islam Hamzanwadi NW Lombok Timur (IAIH) semestinya tidak dibaca sekadar sebagai seremoni akademik. Di balik toga dan gelar yang disematkan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: sejauh mana perguruan tinggi mampu melahirkan manusia yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan daerah?
Pembina SEKOLAH ABATA LOMBOK, Dr. Saharjo, S.H., M.Kn., M.H., memberikan apresiasi terhadap IAIH Hamzanwadi yang dinilainya memiliki posisi strategis dalam perjalanan pendidikan di Nusa Tenggara Barat.
Menurut Saharjo, perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada rutinitas kuliah, ujian, skripsi, lalu wisuda. Gelar akademik harus menjadi titik awal pengabdian, bukan titik akhir pendidikan.
“Kami mengapresiasi IAIH Hamzanwadi yang terus mengambil bagian dalam mencerdaskan masyarakat NTB. Tetapi tantangan perguruan tinggi hari ini jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan sarjana. Perguruan tinggi harus menghasilkan manusia yang mampu memecahkan persoalan nyata,” ujar Saharjo.
Gelar Bukan Ukuran Terakhir
Saharjo menilai ukuran keberhasilan perguruan tinggi tidak semata-mata berapa banyak mahasiswa yang diwisuda. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang dilakukan para alumninya setelah keluar dari kampus.
Apakah mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan?
Apakah mereka mampu membangun usaha?
Apakah mereka mampu mengisi kebutuhan tenaga profesional?
Apakah ilmu yang diperoleh mampu menjawab persoalan masyarakat?
“Kita jangan puas hanya karena jumlah sarjana bertambah. NTB membutuhkan sarjana yang bekerja, menciptakan pekerjaan, memimpin, berinovasi, dan menyelesaikan masalah. Kalau sarjana hanya menambah daftar pencari kerja, berarti ada mata rantai pendidikan yang harus kita evaluasi bersama,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan yang dikembangkan SEKOLAH ABATA LOMBOK, yang sejak pendidikan dasar mulai memperkenalkan kecakapan hidup, karakter, komunikasi, kemandirian dan kewirausahaan.
Menurut Saharjo, pembentukan manusia tidak boleh dimulai ketika seseorang memasuki perguruan tinggi. Fondasinya harus dibangun sejak sekolah.
“Kami di SEKOLAH ABATA LOMBOK berusaha membangun fondasi itu sejak dini. Anak tidak cukup hanya pintar secara akademik. Mereka harus berkarakter, mampu berkomunikasi, mandiri, kreatif, memiliki jiwa kewirausahaan, dan memahami bahwa ilmu pada akhirnya harus memberi manfaat,” ujarnya.
IAIH dan Tantangan Besar Pendidikan NTB
Saharjo melihat IAIH Hamzanwadi memiliki modal penting: tradisi pendidikan Islam, basis masyarakat yang kuat, dan pengalaman panjang dalam membangun sumber daya manusia.
Namun modal tersebut, menurut dia, harus terus diterjemahkan menjadi inovasi.
“IAIH memiliki akar yang kuat. Justru karena itu ekspektasi masyarakat juga harus tinggi. Tradisi harus dipertahankan, tetapi cara menjawab zaman harus terus diperbarui. Jangan sampai kita kuat dalam tradisi tetapi tertinggal dalam inovasi,” kata Saharjo.
Ia mendorong perguruan tinggi Islam di NTB untuk semakin agresif memperkuat riset, teknologi, kewirausahaan, kompetensi bahasa, jejaring industri, dan pengabdian masyarakat.
Sebab, dunia kerja tidak lagi hanya bertanya “Anda lulusan mana?”, tetapi semakin sering bertanya “Anda bisa melakukan apa?”
Di titik inilah, menurut Saharjo, sekolah dan perguruan tinggi perlu membangun kesinambungan.
SEKOLAH ABATA LOMBOK menyiapkan fondasi karakter dan kecakapan hidup. Perguruan tinggi seperti IAIH memperdalam keilmuan, profesionalisme, riset, dan pengabdian.
“Kalau rantai pendidikan ini tersambung dengan baik, kita tidak hanya mencetak lulusan. Kita sedang membangun manusia dan peradaban. Dan itulah sebenarnya ukuran keberhasilan pendidikan,” ujarnya.
Saharjo pun menyampaikan selamat kepada seluruh wisudawan Wisuda XXIX IAIH Hamzanwadi.
“Selamat kepada para wisudawan. Hari ini Anda menerima gelar. Besok masyarakat akan menagih kontribusi. Jangan jadikan ijazah sebagai akhir perjalanan, tetapi jadikan ilmu sebagai modal untuk bekerja, berkarya, mengabdi, dan menciptakan perubahan.”
Bagi Saharjo, wisuda bukan garis akhir. Ia adalah awal dari ujian yang sesungguhnya: apakah ilmu yang diperoleh mampu berubah menjadi manfaat.
